RACUN SANG DUKUN

FB_IMG_1455031497095

Seorang pria yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya.

Beberapa saat setelah tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibu mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, dan angkuh sekali.

Setelah genap dua tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri keadaan ini dan berencana membunuh ibu mertuanya.

Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.

Pria tersebut bercerita dengan penuh kegeraman. Sang dukun hanya tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan.

Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si mertua supaya tidak mencurigainya.

Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada mertuanya.

Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni mertuanya, kelakuan mertua ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya. Ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu.

Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal.

Mendekati hari ke-40 sikap mertua semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya.

Sebuah perilaku mertua yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.

Puncaknya pada hari ke-50 mertua memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si mertua.

Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat.

Pada hari ke-55, sudah tak terbendung lagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu mertua yang menjadi sedemikian sayang padanya.

Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya.

Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata, “Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap mertuamu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena SIKAP DIRIMU YANG TERLEBIH DAHULU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU SENYUM PADANYA.”

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas :

Pertama: Sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah sebagai akibat/ reaksi atas sikap buruk kita padanya.

Kedua: Kalau mau mengubah orang lain, kitalah yang harus berubah terlebih dahulu.

Ketiga: Tidak semua ‘dukun’ salah. Kita juga harus jadi ‘dukun’ kalau ingin sukses belajar yakni ‘duduk dengan tekun’.

Keempat: Selamat mencoba! (tentunya bagi Anda yang mengalami hal yang sama).

Note:

Beberapa waktu yang lalu pada suatu sesi hipnoterapi, saya pernah mengedukasi Pikiran Bawah Sadar seorang Ibu mertua yang tinggal lebih dari 10 th dengan menantu perempuannya, tapi tidak saling bertegur sapa.

Karena yang saya terapi adalah Ibu mertua tersebut, saya tanyakan apakah beliau berkeberatan untuk bertegur sapa terlebih dahulu dengan sang menantu? Hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Namun beliau bersedia melakukannya, karena beliau menganggap menantu juga adalah ‘anak sendiri’. Demi kebaikan sang mertua melakukannya.

Sungguh dahsyat, beberapa hari kemudian, ketika saya hubungi sang mertua untuk mengevaluasi hasil terapi, sang mertua menceritakan bahwa sang menantu perempuannya berubah sangat drastis. Meskipun sang mertua ada di dalam kamar, sang menantu perempuan tersebut membuka pintu kamar sang mertua ketika berpamitan keluar rumah.

Sebelumnya meskipun sang mertua ada di depan pintu pun, ketika sang menantu hendak pergi, sang menantu melewati sang mertua, tak ada satu kata pun yang terucap.

Semua keluhan pusing, kram-kram di leher dan punggung yang diderita sang Ibu mertua pun hilang. Sang mertua merasakan perasaan yang sangat nyaman dan plong.

Dari pengalaman tersebut saya dapat belajar banyak, antara lain untuk jangan berharap orang lain berubah, bila kita sendiri tak mau berubah.

Demikianlah kenyataannya.

Please follow and like us: